Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Monday, January 02, 2017

Rindu

hai, gadisku
bagaimana aku mengungkapkan rindu selain bertemu?
bila kau tahu, ajarkan aku
agar benar saat mengatakannya

aku takut, gadisku
rinduku yang berapi, malah membakarmu hingga abu
bila kau tahu, jelaskan padaku
agar rinduku tetap menyala
(menerangi gelap jarak dan waktu)
***

Labakkang, 13 April 2015
Share:

Wednesday, December 14, 2016

Sunday, October 16, 2016

Ra

pada malam yang bisu
kudekap kau dalam lamunan yang lesu
tak kuhitung juga, berapa detik waktu tlah beringsut
pergi
walau tak kulepas pelukan, waktu tetap menjauh
pada pagi yang teduh
kupeluk kau dalam perasaan yang amat rindu
tak kulepas juga, kau tetap terangkul
meski
jelas kutahu, Ra, kau selalu ingin sembunyi dariku
Ra, cinta tumbuh dari hati kita yang teduh
tapi kematiannya, tanpa kita rasa, siapa yang kan tahu
***
16 Oktober 2014
Share:

Friday, May 01, 2015

Aku, Kau dan Seperti Kemarin

aku adalah langit di musim hujan, adalah tanah di musim kemarau
kepalaku matahari yang membakar dirinya sendiri
dan kaki-kakiku sepasang lereng yang curam
setiap yang datang mengunjungiku akan jatuh ke pangkuangku

kau adalah danau di musim dingin, adalah debu di musim semi
hatimu adalah samudera yang dalam dan senyap
dan kedua matamu sepasang ombak yang tinggi
setiap yang datang padamu akan tenggelam ke kedalaman rasa

seperti kemarin, aku-kau sepasang pedang yang ingin membunuh
dan kau selalu kalah, tapi aku yang membawa pulang luka-luka

aku langit di musim hujan dan kau danau di musim dingin
kaki-kakiku sepasang lereng yang curam dan kau jatuhkan hatimu yang senyap
seperti kemarin, kau kalah, aku pulang penuh luka
***
Labakkang, 30 April 2015


Share:

Sepotong Dange

sepotong dange yang tersisa darimu kulahap dengan semangat
walau kutahu, kelak aku akan rindu yang sedalam-dalamnya dan cinta seteguh-teguhnya

sepotong dange yang tersisa darimu kulahap dengan  sangat nikmat
walau nantinya, aku akan tersihir kegilaan tanpa batas dan damba yang membuncah

aku rindu dan aku tahu bagaimana rasanya terpanggang di atas tungku waktu
seperti dange yang lezat itu, ia teguh menanti di pembakaran rasa

aku cinta, dan aku tahu bagaimana rasanya disisakan oleh ragu
seperti dange yang tersisa darimu, ia selalu yakin, akan ada yang melahapnya segera
***
Labakkang, 28 April 2015

Share:

Back to December II

pada bulan desember 2013 lalu
banyak kuncup luruh sebelum ia menjelma sekuntum bunga yang harum
banyak kepompong yang membusuk sebelum terkepak sayapnya kupu-kupu
karena hujan terlalu deras menderai dan salju terlalu sering turun menjelma maut
dan kita dibiarkan diam, mengigil karena tak ada rindu yang hangat dan lekat

pada bulan desember 2014 lalu
banyak daun jatuh sebelum ia pandai menangkap dan menyemai embun
banyak buah yang runtuh sebelum kelelawar sempat mengasup manisnya rindu
karena badai lebih sering mengancam dan gemuruh angin lepas dari mulut laut
dan kita dibiarkan lenyap sebelum menyeka pilu yang datang dari mata kita yang luka

tahun ini
banyak kuncup luruh sebelum menjelma sekuntum bunga
banyak kepompong yang membusuk sebelum mengepakkan sayapnya
banyak daun yang jatuh sebelum pandai menangkap embun
banyak buah yang runtuh sebelum kelelawar mengasup rindu

musim gugur tahun ini terlalu cepat disambut
kita tahu, bulan desember masih teramat jauh
***
Labakkang, 28 April 2015

Share:

Thursday, April 23, 2015

Friday, January 30, 2015

BERITA KEMATIAN 6

ada getir yang tak terurai
walau hidup lenyap termakan masa
dada nadir terus menguntai
terdegup lasak yang berputus asa
begitu ajal dibacakan…
ribuan kata yang resah memenuhi kekosongan
dada
ada getir yang tak tersingkap
walau tawa lugu membungkam gelisah
tiada desir, ombak di laut pun ikut tersekap
hanya lenguh angin yang membagikan embun
basah
begitu ajal dibacakan…
kita semua diam, mengurai air mata dari dalam
jiwa
***
Pangkep, 29 Januari 2015
Share:

Wednesday, January 07, 2015

GUA LONDA

Hatimu adalah gua tergelap
dengan dinding batu terdingin di semesta
Menyimpan misteri yang belum dan mungkin
takkan terungkap
Ia kekal walau kupukulkan palu para dewa
Hatimu sunyi, seperti gua Londa
tempat orang toraja menyimpan banyak peti
berisi kematian, begitu diam, begitu hening
dihadang malam
ia tetap menyerukan sepi di antara jutaan bunyi
gelap
dingin
sunyi
hening
sepi
walau aku ada di antara jutaan bunyi
***
Toraja Utara, 27 Desember 2014
Share:

Tuesday, December 23, 2014

Manusia Kotak

aku kamu dalam luap-luap emosi
seperti sekotak gertak yang sengaja kau beri
untuk hiburan mata dan dada
yang kita kira selapang bumi kita pijak
dan ternyata ada gelisah menggunung di bawah kaki-kakimu, kaki-kakiku
aku kamu mengotak seperti bumi dalam genggaman yang sengaja
aku kamu adalah kotak
tak tak tak
kita menggertak dada
***
Somewhere, 20 Desember 2014
Share:

Friday, December 12, 2014

Puisi

pada puisi aku selalu menyembunyikan rasa
persembunyian yang jauh, juga sangat gelap
meski demikian, pada akhirnya kau juga mampu menemukanku
ya, walau, aku tetap memilih bersembunyi di sana
kali ini pun begitu, aku tetap memilih puisi tempat persembunyianku
kuselip rasa di antara kata yang kubuat kabur dan samar
kutaruh di sisi yang jauh, yang orang lain tak dapat menemukannya
walau pada kenyataannya, lagi-lagi kau selalu bisa menebakku
puisi memang bukan hal yang sulit kau baca
rima, walau kunadakan bermacam irama
kau tetap mampu menerka, aku sedang menyembunyikan apa
kau tahu, jika ada rasa yang kusimpan
ya, kau tahu, ada rasa yang kusembunyikan
***
Pangkep, 7 April 2014
Share:

Hadiah

kukirim se-kotak untukmu
terbungkus kertas kado berwarna merah
merah semerah bibirmu
bermotif bunga mawar
tanpa tungkai tanpa duri
sentuhlah, kau tak perlu takut kena perih
hari ini ulang tahunmu
kuhadiahi kau se-kotak itu
sampai di rumah jangan buang
bukalah, jangan hanya simpan di lemari es
lalu membiarkannya membusuk bersama waktu
bukalah, jangan buang isinya,  simpan di hatimu, ya di hati
itu sekotak hatiku yang kubagi dua
untukku, untukkau separuh
terimalah, lalu kau-aku bisa lebih utuh
***
Makassar, 21 Desember 2013
Share:

Tuesday, December 09, 2014

Pangeran Kodok

aku lahir di antara gerimis hari ini
berenang riang di genangan embun kedua matamu
aku tahu, lelakimu pergi ke langit ke tujuh tanpa ijin
tapi tenanglah, ia ada di kecupan terakhirmu sebelum mati
dan, ciumlah Tuhan
lelakimu akan kembali segera dari kutukan
***
Labakkang, 9 Desember 2014
Share:

Kala AlamMembenci

kala hujan
air tak hanya jatuh dari langit dan tak hanya
membanjiri tanah
merekapun sempat jatuh dari mata dan
menggenangi luka di dada
betapa perih hidup kala langit mengancami kita
banyak celaka
padahal, dari merekalah kita menadah reski Ilahi
apalagi di musim kemarau
bibir-bibir mulai tandus, tak lagi merah mekar
merekah
tenggorongkan pun mulai mengering, ludah
semakin pahit ditelan
mengapa alam malah murka dan menambah
besar luka?
padahal, pada waktu itulah kami ingin
mengeringkan derita
***
Makassar, 23 Mei 2013
Share:

Ada gelisah yang kau sembunyi

perangmu mengumpul di kepalan tangan
menghabisi rasa nyamanku di kehampaan angan
perangmu sungguh mendinginkan aku
membekukan pergulatan juga mematikan hatiku
bagaimana gelisahku-gelisahmu kulerai?
mendamaikan nafsumu yang terus menderai
kau yang menghasut semua tangan bertikai
memaksa perangmu berlanjut, terus tanpa usai
bagaimana apiku-apimu kupadamkan?
mematikan keliarannya yang melahap relasi
picik, kelicikanmu kian mengelabuhi pandang
menghipnotis jiwaku dengan sejuta bual dan ilusi
perangmu sungguh dingin
membekukan hatiku
mengepalkannya di tangan kita yang bertikai
berlanjut, terus tanpa usai
dan kutahu ada gelisah
masih ada gelisah yang kau sembunyi
***
Makassar, 7 September 2013
Share:

Ajakan

saat tikus kian rakus
si kucing malah kehilangan nafsu
bahkan tikus cerdik
membagi tulang untuk si kucing
katanya, ia yang makan daging
si kucing yang makan tulang
si kucing malas cari makan
lebih senang se-meja dengan tikus
bahkan kucing lebih licik
mengajak anjing tetangga tidur bersama
***
Pangkep, 9 September 2013
Share:

50/50

:dari sebuah film
RADIO
setiap pagi adalah langit yang membiru
jalanan adalah lintasan semua arah
kuberlari, melarikan perih dalam benak
di pemberhentian, seorang wanita melaju tak
acuh padaku
gegas nafasku mencegat
tersengal, sehabis melarikan perih yang
bermukim di punggungku
tapi, dia tetap kubiarkan berlari
setiap pagi adalah awan yang memutih
telinga menjadi cawan segala suara
kusiarkan, menyiarkan lirih penuh sesak
pada keheningan, seorang lelaki(temanku)
berteriak
tak peduli padaku
lugas mulutku menggumam
terbata-bata, sehabis menyiarkan lirih yang
berdiam di kepalaku
tapi dia tetap kubiarkan berdalih
KANKER
dan pada akhirnya, langit mataku meniti resah
aku menggeliat, menggugat Tuhan yang
membagiku gelisah
dada yang kuduga lapang, kini dipenuhi juta
gundah
pipi yang kupaksa tegar, akhirnya juga kena
basah
dan kini setiap nafas kuhitung-hitung
kutarik begitu berat, kulepas begitu panjang
takkan pernah kubiarkan pergi begitu saja
LUKISAN
aku adalah kanvasmu
tempatmu melukis segala imajimu
kesedihan
rasa kasihan
kepedulian
semua kau gambar di wajahku
dan, kusadari itu semua adalah ilusi
3 TITIK
Kyle, kau mengajakku mengecani malam
menghisap ganja
meniduri siapa saja
untuk sekedar membuatku lupa
aku wafat esok atau senja nanti
Ibu, kau mengasuh suami yang tak
mengenalimu
kini kau menahanku, menjaga anakmu dari
kematian
apakah kau lupa bu?
kau bisa saja mati ditekan
esok atau pada senja yang akan datang
Terapis, berhentilah mengelus pundakku
memegang lenganku
aku tahu kematianku, kutahu ia akan datang
tak usahlah kau mengobati amarahku
kau cukup tahu, aku senang kau membawaku
pulang pada malamku
dan mendengar guratan mimpi burukku
kau cukup tahu, aku senang
50/50
hanya ada 2 untuk 50 bagian dalam hidupku
aku selamat
atau aku tamat menyisakan derita
***
Makassar, 19 September 2013
Share:

RANSEL

Hei, Manisku
kau lupa mengajakku mengejar langit
sialnya, kau membawa hujan kita
periksalah ranselmu, ada segenggam hujan
terbawa
apakah kau sengaja?
sengaja membiarkanku rindu tak berdaya
buka ranselmu
kembalikanlah hujan kepada langit
lalu biarkan Tuhan yang tentukan
apakah ia akan jatuh tepat di atas dadaku
atau tidak
kalau memang iya, aku tidak takut merindu
walau ranselmu penuh dengan hujan yang kau
bawa
***
Pangkep, 16 April 2014
Share:

HUJAN YANG KAU NANTIKAN

aku luruh ke tubuhmu
memenuhi seluruh retak bibirmu
melepas dahaga tenggorokanmu yang penuh kedustaan
aku luruh ke tubuhmu
mengusap semua luka di hatimu
mereda derita jiwamu yang senuh kepuraan
aku luruh ke tubuhmu
menggenangi kubangan jiwamu
meredam gempita ruhmu yang keruh kenistaan
aku luruh ke tanahmu
menggenapi setiap kotak sawahmu
membagi reski bagimu, lalu kau menjadi kufur
aku luruh ke tanahmu
melengkapi setiap kolam ikanmu
memberi rahmat ilahi, yang kau bagi cuma separuh
aku hujan yang kau nantikan
untuk memenuhi seluruh doamu
tapi kau tidak memenuhi doa yang lain
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
Share:

DI ANTARA DUA POHON

kau berdiri di antara dua pohon itu
yang terkadang jemarinya
mengusap luka di sekujur tubuhmu
lalu kau memeluknya satu per satu
seolah mereka itu ibu-bapakmu
kau berdiri di antara dua pohon itu
yang terkadang membelai rambutmu
sehabis badai mengurainya tak bersusun
lalu kau membisiknya tentang lagu
lantunan kayangan tanpa riuh
pada suatu malam
aku berdiri di antara dua pohon itu
aku mencari jejakmu yang hilang
sehabis gergaji memotong-motong kakimu
lalu kedua pohon itu membisikku tentang lagu
lantunan kayangan tentangmu tanpa riuh
***
Labakkang, 24 Oktober 2014
Share: