Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Thursday, February 09, 2017

Malaikat Kematian

Selamat dari kematian adalah mukjizat besar dalam hidupku. Meskipun kedua kakiku lumpuh, aku tetap bersyukur, tetap menghargai kesempatanku. Sebulan koma juga membuatku lemah dan tak kuat mengingat-ingat masa laluku.
“Bagaimana tidurmu semalam, Nak? Tanya ibuku
“Seperti sebelumnya, Bu. Aku masih terus bermimpi buruk.”
Selama sembuh dari koma, tiap malam aku mengalami mimpi buruk. Sangat buruk. Sesosok bayangan hitam mengejar-ngejarku. Tangan kanannya membawa pedang yang sangat panjang, tajam, mampu memenggal kepalaku dengan hanya sekali kibasan. Tangan kirinya menggenggam rantai besi yang begitu kuat, sekuat baja. Dugaanku, rantai itu untuk dililitkan ke badanku. Akh...mimpi itu yang terus terulang.
Aku sudah memeriksakan diri ke psikiater. Dan jawabya sederhana, aku mengalami trauma. Sudah hal wajar jika seseorang yang selamat dari kecelekaan mengalami trauma. Pun terkadang aku merasa ingin mati saja jika aku tak kuat menghadapi tekanan ini.
Sadar bahwa aku selamat dari kecelakaan seorang diri juga membuatku semakin depresi. Aku selalu merasa aku lari dari kematian yang sudah digariskan oleh Tuhan. Bagaimana tidak, kecelakaan yang memakan korban 20 orang itu hanya aku yang selamat. Aku senang bisa selamat. Tapi tekanan jiwa masih saja mendekapku. Dan kupikir sosok yang kumimpikan itu adalah malaikat maut yang seharusnya telah mencabut ruhku.
***
Tugu Kabut Hitam adalah tugu yang dibangun oleh keluarga seluruh korban tepat di lokasi kejadian. Ini dibuat untuk mengenang korban kejadian tragis ini. Tiap akhir pekan aku menyempatkan diri mengunjunginya. Membawakan karangan bunga dan membacakan doa-doa. Hal ini kulakukan secara sembunyi-sembunyi. Ini dikarenakan anjuran psikiater priadiku untuk melupakan masa kelam itu dengan tidak lagi memikirkan hal yang berhubungan dengan kejadian ini.
“Kau senang? Kau pikir kau akan tenang? Kau yang seharusnya mati, dan anakku yang seharusnya hidup! “ teriak salah seorang ibu korban.
Tiap bertemu dengannya, tiap kali itu juga dia meneriakkan kalimat itu. Menurutnya, anaknya lah yang pantas hidup bukan malah aku. Ya, banyak orang yang tak mengingikan aku yang selamat. Aku seorang pecandu, aku juga mantan napi, dulu aku dipenjara karena memperkosa teman kampusku. Itu sudah lama berlalu. Namun, setelah lepas dari masa tahanan. Benak orang-orang masih mencapku bajingan. Hal ini membuatku semakin tertekan. Aku tak tahu apa maksud Tuhan yang membiarkan aku tetap hidup.
Sering juga kudapati seorang gadis kecil menangis di depan tugu itu, namun saat aku mendekat, dia lari penuh ketakutan. Menurut kabar yang kudapat, dia adalah adik dari salah seorang korban pada kecelakaan. Entah karena anak itu tahu identitasku, hingga dia menghindariku.
***
“Akh… .”
Nafasku tersengal-sengal, aku mimpi buruk lagi, kali ini bukan hanya sesosok bayangan yang mengejarku, sekitar 10 atau lebih sosok bayangan hitam ingin menangkapku. Aku yang tak mampu berjalan pun harus menrangkak, sungguh mimpi ini menyiksaku.
“Nak, kudengar semalam kau teriak minta tolong kepada anak kecil, kau mimpi burukku lagi? Tanya ibuku.
Dalam mimpiku, aku bertemu dengan gadis kecil itu, aku yang terkulai lemah dan digerogoti puluhan bayangan hitam, meminta tolong kepada dia. Namun, dia tak mengacuhkanku, dia tetap membiarkan aku dipukuli. Sebelum terbangun, sempat kudengar dia berkata kalau akulah yang seharusnya mati, dan kakaknya lah yang harus hidup. Sepertinya, dampak trauma masih berlanjut. Dan ternyata bukan hanya satu atau dua orang saja yang tak terima aku selamat.
“kau yang seharusnya mati,” kata itu selalu terngiang di telingaku. Aku semakin tak tenang, amarahku membuncah. Sungguh aku tak tahan lagi menahan tekanan ini. Aku seolah ingin bunuh diri saja. Tapi, aku juga takut mati. Aku takut menyia-nyiakan hidup ini.
***
Aku berjalan lunglai sehabis kuliah, baru saja mengkonsumsi obat-obat terlarang. Dipemberhentian bus, aku duduk bersama teman kampusku menunggu bus. Mataku sayup, aku menikmati penantianku.
“Hei Nak, kamu mau naik atau tidak? Teriak kernet bus kepadaku.
Pengaruh obat-obatan mulai melemahkan otakku. Akupun segera menaiki bus dan mencari tempat duduk. Kupilih tempat duduk dekat jendela.
“Hei, itu tempat duduk untukku, Bro! teriak salah seorang penumpang.
Karena aku tak sanggup lagi berdiri, aku tetap bersikeras untuk tidak pindah, kamipun sempat beradu mulut, dan bahkan satu pukulan sempat menghantam wajahku. Aku jadi kalap, kupaksa diriku berdiri dan membalas memukulnya berulang kali hingga kernet bus melerai. Dan kernet bus membiarkanku tetap duduk di tempat semula. Dia yang tak terima terus mengomel sembari diarahkan ke tempat duduk yang lain. tak berselang lama, aku yang sudah setengah sadar melihat busku terbalik dan orang-orang terpelanting dari tempat duduknya. Awalnya kupikir itu hanya pengaruh obat. Tenyata mobil menabrak benda, lalu tak terkontrol, kemudian terguling-guling hingga ke jurang.
***
Nafasku tersengal- sengal, aku baru saja mimpi buruk lagi, mimpi yang sama. Anak itu terus berkata jika akulah yang pantas mati.
Aku sadar, malam ini aku sendiri. Ibu harus ke keluar kota karena tuntutan pekerjaan. Demi biaya pengobatanku, ibu rela bekerja full time. Rumah tampak sangat sepi, ditambah gelap gulita, hanya bias cahaya bulan yang memberi sedikit cahaya. Aku melajukan kursi rodaku menuju dapur. aku mencoaba mencari makan untuk mengisi perutku.
Jendela dapur terbuka, angin malam bertiup kencang dan dinginnya menggigit tulangku. Ibu mungkin lupa menutupnya.
“Ada bekas telapak kaki,” aku kaget setelah melihat jejak kaki di lantai. Kulebarkan mata dan melototi seluruh ruang. Tapi karena gelap aku tak bisa memastikan bila ada orang yang mengendap-ngendap memasuki rumahku. Aku pun segera ke rak-rak dapur. namun…., gawat….tak ada satupun pisau dapur, seseorang telah mengambilnya. Aku segera melajukan kursi rodaku menuju kamar. Tiba-tiba roda kursiku tersandung benda, akupun terpelanting jauh ke depan. Saat menoleh ke arah kursi, kulihat ada puluhan orang membawa pisau, mencoba menghampiriku. Aku takut, aku terpaksa merengkak menuju kamar. Nafasku tersengal-sengal, kedua lenganku mulai leith. Aku tak sanggup lagi merangkak. Akh… siapa mereka, kenapa mereka ingin membunuhku.
Aku terus merangkak, kumenoleh ke arah mereka, kulihat seorang dari mereka melompatiku. Dia memegang kedua kakiku. Aku tak mampu mengelak. Yang lainnya mulai mendekatiku. Tamat. Aku aku akan tamat malam ini. Satu, dua sampai lima pisau bergantian menusuk badanku. Mati, aku mati malam ini. Nafasku sudah berat. Wajahku memucat. Mereka terus saja menusukku berulang kali. Aku tak tahu harus berbuat apa. Suaraku habis. Aku tak mampu meminta tolong. Tak lama kemudian, seorang anak kecil dengan pisau di tangannya mendekatiku dan berkata kalau akulah yang seharusnya mati sebelum pisaunya dia tancapkan tepat di dadaku. Pandanganku mulai gelap. Aku kehabisan banyak darah. Pikirku mereka adalah malaikat yang selama ini mengejar-ngejarku. Tuhan…..kenapa aku harus mati begini. Kenapa?
***
Makassar, 9 November 2013

Share:

Monday, December 12, 2016

Sepotong Hati dari Surga

Siang sudah memuncak namun matahari masih bersembunyi di balik mendung. Hari ini hujan, hujan yang luruh begitu syahdu. Terdengar samar diskusi bapak dan Haji Syamsul di antara rinai. Aji, sapaan Haji Syamsul, masih tetangga kampung dengan kami. Aji seorang pengusaha gorong-gorong, juga seorang duda beranak enam. Hari ini Aji hendak melamarku. Aku dan adikku yang bersembunyi dalam kamar, terus menguping pembicaraan mereka. Senang. Hati siapa yang tak senang jika tahu dirinya akan dilamar dan segera menikah. Meski kusadari Aji seorang duda, aku tetap senang. Usiaku sudah mencapai kepala tiga, adikku satu-satunya sudah bersuami dan memiliki seorang putra. Aku tak punya alasan lagi untuk menolak. Ini kesempatan emas untuk memiliki suami dan bahkan anak.

“Hei, apa yang kalian lakukan, Nak?” Sambar ibuku saat memergoki kami sedang menguping.
Kami kaget. tak menjawab, kami segera melepas kuping dari dinding triplek kamarku.
“Bagaimana, Nak. Kamu mau menerima lamaran Aji?” Tanya ibu penuh harap.
Aku sejenak diam lalu memandang adikku. Dia tersenyum. Dan tanpa pikir panjang, aku manggut mengiyakan lamaran itu.

Waktu bergeser dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga tibalah hari pernikahanku. Ucapan selamat silih berganti berdatangan dari sanak keluarga. Mereka senang akan keputusanku. Namun, degup ragu kembali berdetak kencang dalam dada. Ragam resah mulai bermuculan. Aku takut, nantinya aku tak bisa menjadi istri yang baik bagi Aji pun menjadi ibu yang baik pula bagi anak-anaknya. Kemarin saja, tetangga mulai membicarakanku. Malah kudengar sendiri, jika aku dituduh selingkuhan Aji saat istrinya sakit. Bukan hanya itu, tersiar kabar kalau aku tamak akan harta Aji dan kejam kepada anak-anaknya. Walau itu tuduhan yang lazim bagi ibu tiri, aku tetap merasa risau.
“Ada apa, Kak?” Tegur adikku memecah lamunanku.
Mulutku terkancing. Aku bisu. Aku hanya mampu meneteskan air mata. Seolah mengerti apa maksudku, adikku segera memelukku dan mencoba menopang semangatku yang mulai runtuh.
“Jangan dengar perkataan orang lain, Kak!” Bisiknya penuh hangat.
“Selama Kakak melakukan yang baik, itu berarti mereka salah dalam menilai.” Lanjutnya terus mendekap kegelisahanku. Aku pun menyeka air mata lalu menampakkan wajah sejuta senyum bahagia. Karena adikku, niatku sudah bulat. Aku siap melenggang ke hidup yang baru. Menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluargaku.

Waktu terus berputar. Tahun-tahun kebahagian terus kulalui bersama Aji  dan anak-anaknya. Walau sedikit berat hati harus berpisah dengan keluargaku. Juga keluarga dari almahrum istri Aji, yang seolah masih tidak terima keputusan Aji menikahiku. Yang menjadi korban kerenggangan keluarga Aji tentu saja adalah anak-anaknya. Mereka seolah tak diperdulikan lagi oleh keluarga dari ibunya. Mereka belum cukup dewasa untuk memahami gejolak keluarga yang terjadi. Sungguh haru itu yang mesti kami jalani dari tahun ke tahun.
*

Sepuluh tahun sudah usia pernikahanku dengan Aji. Namun, aku belum mengaruniakannya seorang anak. Hati siapa yang tak sesak jika impian menggendong seorang anak dari darah daging sendiri belum tercapai. Kami sudah berobat ke mana-mana. Dari pengobatan medis hingga pangobatan alternatif yang sedikit magis. Ini aku lakukan sesuai saran Umming, ibu mertuaku. Mungkin bagi Aji memiliki anak bukan lagi impiannya. Apalagi dia sudah memilik 6 anak dari almahrum istrinya. 
“Yang tabah ya, Ma!” bisik Aji 
Setiap malam, sebelum tidur, kami hanya membahas masalah anak. Beban yang kupikul tiap hari ini pun terasa berat. Tapi, Aji begitu tahu cara untuk menenangkan jiwaku. 
“Mungkin Aji yang sudah tua, Ma!” Ucapnya menutup malamku yang sesak

Matahari pagi menyinsing, kami kembali ke aktivitas sehari-hari. Aji sibuk membuat gorong-gorong bersama pekerjanya, anak-anak berangkat ke sekolah. Aku sibuk di dapur bersama Umming.
“Bagaimana Nak, sudah berobat ke Mak Biya?” Selidik ibu mertuaku
Aku menggelengkan kepala lalu menunduk membisu. Umming masih saja menyarankan berobat ke sana ke mari. Padahal, aku dan Aji sudah memasrahkannya ke pada Tuhan. Aku juga tak berani membantah permintaan Umming. Aku memilih diam saja. Mungkin Umming hanya ingin aku merasakan kebahagian seorang ibu yang memiliki anak dari rahimnya sendiri. Umming terus menatapku. Aku tetap memilih membisu.

Waktu begitu cepat berlalu, malam kini menjemput kembali diriku bersama sesak-sesak yang menghuni dada. Tak dapat kutepis keinginan memiliki seorang anak. Setiap kali aku melamuni takdir, Aji selalu hadir menabahkan hatiku. Tapi kali ini Aji murung. Entah itu karena penghasilan gorong-gorong yang mulai menurun, ataukah beliau juga menginginkan seorang anak dari rahimku. Entah. Aji tak bicara. Aji juga ikut membisu. Saat kutanya, Aji hanya melempar senyum hambar padaku.
“Ma, besok kita ke Mak Biya untuk berobat!” Ucapnya pelan tanpa menatapku
Aku kaget. Untuk pertama kalinya Aji memintaku seperti itu. Selama ini Aji yang selalu menenangkan kegelisahanku. Tapi, kini Aji ikut menambah beban di pundakku. Sesak itu semakin membengkak dalam dada. 

Malam ini aku tak mampu memejamkan mata. Ajakan Aji tadi membuatku semakin tertekan. Ke mana Aji yang dulu. Apakah hanya sebatas ini kesabarannya?. Aku gelisah. Aku gamang. Tapi, juga tak dapat kusalahkan Aji. sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk kami bersabar. Wajar jika Aji mulai mempertanyakan. “Tuhan, sudah kupasrahkan hidupku padamu”. Batinku bergejolak. Haruskah aku kembali berobat ke sana ke mari. Berobat kepada dukun. Akh…tidak, itu jalan sesat. Mempercayai dukun sama saja menduakan Tuhan.
Anak-anak berangkat ke sekolah, Umming sudah sibuk di dapur. aku masih memilih mengurung diri dalam kamar. Semalam aku tak tidur memikirkan permintaan Umming dan Aji. Aku tak mau kembali berobat ke dukun. Jika ke dokter aku mau. Tapi Aji tak akan mau. Katanya, ke dokter perlu banyak biaya dan ujung-ujungnya tak ada perubahan.
“Ma, Bangun! Aji sudah siap ke Mak Biya,” teriak Aji dari luar
Aku bergeming. Aku tetap berdiam diri di atas kasur. Aku sudah bertekad, aku tak akan ke dukun lagi. Biarlah Aji marah atau bahkan membenciku. Yang terpenting, aku tak mau lagi terjerumus dalam kesesatan.

Tiba-tiba Aji berdiri tepat di depanku. Wajahnya memerah. Matanya melas memohon aku bangun. Kali ini Aji begitu berharap aku  berobat. Disusul Umming, yang juga mendesakku. Aku menolak. Aku tahu sifat Aji, dia tak akan sampai hati memaksaku. Aji kembali membisu seperti semalam. Lalu beranjak pergi entah ke mana. Umming tetap mendesakku. Malah menyalahkanku. Tapi aku tetap menampiknya. Sesak-sesak kembali mengisi rongga dadaku. Kali ini lebih sesak karena Aji tak lagi menopangku.
*

Seminggu ini aku tak bisa tidur nyenyak. Aji selalu pulang larut malam. Alasannya mengurus bisnis gorong-gorong. Umming juga sudah seminggu tak bicara padaku. Aku tak tahu harus bicara kepada siapa. Kepada anak-anak tak mungkin. Mereka belum cukup dewasa untuk urusan ini. Apalagi, mereka bukan anak kandungku. Belum lagi masalah keluarga kemarin, yang membuat mereka tak lagi dihargai oleh neneknya. Akh…aku merasa jadi biang keladi semua masalah. Andai saja aku tak menerima lamaran Aji. Walau beresiko menjadi perawan tua, itu lebih baik dari pada menjadi musabab masalah keluarga Aji.

Hari ini Aji berangkat keluar kota, hendak mengurus lahan Umming yang lagi sengketa. 
“Saya pergi cuma dua hari, besok lusa Saya sudah kembali.” Pamit Aji kepada ibunya.
Kali ini aku seolah tidak diacuhkan lagi. Sebelum pergi, Aji tak pamit sepatah kata pun padaku. Mungkin karena aku menolak permintaannya untuk berobat. Entah. Aku juga tak tahu apa yang Aji pikirkan. Aji berubah total. Tadinya, dialah tempatku menyandarkan segala beban yang kupikul. Sekarang, terasa asing berada di sisinya.

Gelisah kian menyesakkanku. Ya, sesak-sesak itu kembali menyelimutiku. Aku mulai tak nyaman di rumah ini. Tak ada Aji, juga Umming belum kunjung mau bicara denganku. Aku juga tak berani kembali ke rumah bapakku tanpa ijin suami. Kalau aku pulang tanpa pamit, masalah akan tambah runyam. Malam ini, seharusnya Aji menelpon untuk menyampaikan kabar. Sudah kucoba untuk menghubungi hapenya tapi tak kunjung dijawab. Aku khawatir, terjadi hal buruk padanya.
“Ma, Bapak Aji sudah sampai magrib tadi.” Teriak anak bungsu Aji.
Sedikit lega mendengarnya. Tapi, di lain sisi ini sungguh menyakitkan. Aji tak menghubungiku secara langsung.  Aji mungkin masih marah akan penolakanku dulu.
Tiga hari berlalu, Aji belum juga pulang.  Pun, tak memberi kabar kepadaku, Umming atau anak-anaknya. Aku mencoba menghubunginya. Tapi nomor hapenya tak aktif. Kuhubungi keluarga di sana, juga mereka tak tahu. Mereka hanya mengiyakan kalau Aji sudah pulang kemarin. Ke mana aji pergi? Ke mana? Kenapa Aji  tak memberi kabar. Semarah itukah Aji kepadaku? Gelisahku semakin menjadi-jadi.

Aku masih termenung di depan telepon rumah. Menunggunya berdering. Aku takut, Aji kena musibah di jalan.
“Jangan khawatir, Aji akan baik-baik saja.” Bisik Umming sambil mendekapku.
Air mata pun jatuh tak tertahan. Mengalir begitu banyak. Aku tertegun dan masih menunggu.
*

Tidak di pasar, tidak di depan rumah, tetangga sibuk bergosip tentang Aji. Banyak yang bilang kalau Aji pergi dengan wanita lain. Ada yang melihatnya naik satu mobil dengan wanita di terminal. Ada juga yang bilang, kalau Aji berboncengan dengan wanita itu. Aku tak peduli. Aku tak percaya Aji melakukannyan. Namun, gosip ini semakin heboh diperbincangkan. Kemarin, Aco, supir angkut yang mengantar Aji-memang bilang kepadaku, kalau Aji berangkat bersama seorang gadis. Dia pikir itu keluarga Aji. Jadi, Aco diam-diam saja selama ini. Mendengar perkataan Aco, membuat orang sekampung semakin riuh membicarakan keluarga kami. Orang-orang bahkan tak lagi memperdulikan aku ada atau tidak di dekat mereka. Mereka tetap membahasnya lugas sampai tuntas. Bahkan ada yang menuding kalau Aji  mau menikah lagi karena aku tak bisa memberinya anak. Aku gamang, mataku berkaca-kaca. Hanya hitungan detik saja, hujan tumpah dari mataku.

Malam pekat semakin membuatku merasa sepi. Masih tanpa Aji. Sesak kemarin kini berganti menjadi rasa takut yang mendalam. Aku takut jika gosip itu benar. Apalagi sudah sebulan Aji menghilang tanpa kabar. Jika benar Aji menikah. Aku hanya bisa menerima walau begitu pahit. Aku sadar ini mungkin karena aku tak bisa memberinya anak. 
Kringgg…Kriiiingg..... bunyi telpon dari ruang tamu.
Aku menyeka air mata lalu bergegas ke ruang tamu. Aku sontak kaget, suara itu mirip suara Aji. Benar. ya itu memang suara Aji. Setelah sebulan menghilang, Aji akhirnya menghubungiku. Mungkin Aji sudah tidak marah lagi kepadaku dan akan meminta maaf karena pergi untuk waktu yang lama dan tanpa kabar. Aku senang. Sungguh sangat senang mendengar suara Aji. 

Tidak…ini tidak mungkin terjadi. Aku kaget mendengarnya. Aku menghela nafas begitu panjang lalu meminta Aji memperjelas kembali ucapannya. Bukan rindu, Aji tidak bicara soal itu. Aji malah meminta ijin kepadaku untuk menikah besok. Wanita yang hendak dinikahinya sedang mengandung anak Aji. Entah apa yang harus kulakukan. Aku juga tak bisa meminta cerai tiba-tiba. Dan meninggalkan Umming dan anak-anak Aji begitu saja. Aku juga tak bisa menolak kemauan Aji. Wanita itu sudah mengandung anaknya. Sakit. Pedih. Aku bergeming, hening. Tanpa angin, tanpa mendung. Hujan tumpah begitu saja dari mataku. Aku terluka sangat dalam.
*

Tak terasa, anak tertua Aji, alfian, Akan menikah hari ini. Tak terasa pula lima tahun sejak kepergian Aji dengan keluarga barunya. Ada kabar beliau merantau ke pulau bagian timur negeriku. Entah Aji akan hadir di pernikahan anaknya atau tidak. Tak ada kabar untuk itu. Alfian juga tak pernah menyinggung tentang bapaknya. Dia akan diam atau pergi begitu saja jika ada yang membahas tentang bapaknya. Aku pernah meminta Alfian untuk menghubungi Aji. Tapi dia menampik. Dia menolak tegas pintaku.  Hatinya seolah sudah tertutup untuk bapaknya. Bagaimana tidak, Aji pergi begitu saja meninggalkan anak-anaknya. Menelantarkan aku dan ibunya. Untung saja, bisnis gorong-gorong milik Aji mampu aku jalankan. Ya, lima tahun aku beserta anak-anaknya bekerja sebagai pembuat gorong-gorong. Kami juga tak mampu mempekerjakan orang lain, penghasilan hanya cukup untuk kami berdelapan. Aku, Umming dan anak-anak Aji.

Pesta perjamuan cukup ramai. Tetamu dari keluarga kedua mempelai sudah datang. Riuh musik terus menghibur. Tapi, aku sedikit terusik dengan lagu yang didendangkan. Lagu itu jelas menyinggung kehidupanku. Seorang wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya. Demi Alfian. Demi kebahagian Alfian, aku menjaga kesedihan itu. 

Seorang wanita dengan pakaian yang sederhana berjalan masuk menuju pelaminan sambil menggandeng seorang balita. Tak ada yang mengenalinya. Baik dari keluargaku atau keluarga mempelai wanita. Orang-orang heran. Saling berbisik, “Siapa wanita itu?”.  Kami masih terus bertanya-tanya. Mata kami tetap jaga menatapnya. Tak lama kemudian muncul sosok yang tak asing di mataku. Umming  yang tadi bingung kini beringsut menuju laki-laki itu. Tanpa Tanya, tanpa kata, Umming langsung memeluknya begitu erat. Itu Aji. Ya, itu Aji beserta istri dan anaknya. Aku senang melihat Aji  hadir di pernikahan Alfian. Kuakui sedikit pahit kurasakan karena kehadiran istri dan buah hatinya.

Kulihat wajah Alfian memerah. Matanya nanar menatap Aji. Lalu menggeser wajahnya, kemudian menatapku terseduh. Namun, aku membalas tatapan itu dengan sisa senyum yang kupunya. Aku tak mau kebahagian Alfian berubah jadi tangis-pedih karenaku. Aku paham, Alfian mengerti perasaanku. Tapi, sudah sejak dulu, sudah sejak kepergian Aji, Aku telah memasrahkan hidupku kepada Tuhan. Ini jalan yang harus kulalui. Aku yang memilih masuk ke dalam lika-liku hidup ini. Dan aku juga yang harus menanggunggnya. Aku terus tersenyum menyambut keluarga kami yang telah kembali.
*** 
Pangkep, Januari 2014

Share:

Manusia Longga

Hujan masih mengguyur deras kota Belopa, dingin nampaknya mampu menembus kaca riben mobil yang ditumpangi Samsul. Suasana mobil amat beku, hanya radio yang terus bernyanyi dari lagu ke lagu. Tahir, mertua samsul juga sedang menikmati tidur siangnya. Lelaki tua ini yang punya usul untuk menembus dinginnya kota belopa. Samsul, sebagai menantu yang baik, tak bisa menolak permintaan mertuanya.
“kurang sejam lagi kita sampai wa’,” tegas Mail, orang yang juga terperangkap iming-imingan Tahir. Gegas Tahir terjaga dari mimpinya, mungkin mimpi indah bersama Opu.

Rumah dari kayu hitam itu berdiri kokoh menatap tajam ke jalan, Tahir bersama rombongan turun dan gegas menyambut tangan Opu yang berjalan tertatih, usia senja memaksanya harus menghitung langkah sambil memegangi punggung. 
“Dekat kan, Pak Tahir !” sindir Opu dengan senyum usangnya.
Mereka pun teratur menaiki rumah panggung milik Opu. Rupanya, beberapa ‘air panas’ sedari tadi menunggu, asap tipis seakan menyihir tenggorokan mereka. Tak lama, Sapar, adik dari samsul menyeruput kopi hitam tanpa ijin. Tingkahnya disambut tawa kecil Opu dan istrinya.
“Ini pusaka yang kumaksud,” ucap lirih Opu kepada tetamunya.
Tahir bersama rombongan takjub. Mereka akhirnya melihat langsung pusaka yang selama ini mereka cari-cari. Opu masih dengan lirih menceritakan sejarah pusaka itu. Mereka terus terpesona, wajah mereka seolah tersirat rasa ingin memilikinya segera. 

Perbincangan hanya sejam, Opu segera meraih barang bawaannya, dia lalu menyambut tangan istri lalu pamit ikut rombongan tahir menuju Labakkang. Hujan tiba-tiba kian menderas, seolah isyarat untuk menahan langkah Opu yang untuk pertama kalinya meninggalkan Belopa. Di perjalanan Opu beku tanpa kata, hanya senyum tipis kala saling bertatap dengan Tahir. Kedua tangannya tak pernah lepas merangkul tas bawaannya. Matanya terjaga dan awas ke tiap orang dalam mobil.
*

Pagi sangat dingin di Labakkang, walau tak hujan sekalipun. Opu masih nyenyak dengan tidurnya. Tahir sudah sibuk menjamu tetamunya. Mereka kelompok yang dari dulu berburu pusaka. Mereka sesekali menatap Opu, Nampak dari raut wajah mereka, keinginan untuk melihat pusaka Opu. Samsul berusaha membangunkan Opu. 
“Puang, Bangun. Sarapan sudah sedia,” ucapnya pelan dan gugup.
Opu terjaga, nampaknya sedari tadi dia sudah bangun dan menguping pembicaraan tetamu. Masih menaruh curiga, Opu tetap waspada kepada setiap orang.

Pagi melengser jauh, malam menyambut. Rasa bosan menumpuk di dada Opu, dia menghabiskan waktu di rumah samsul, menyambut tamu, dan menjawab ratusan pertanyaan. Waktu sudah menunjuk pukul 01.00, Opu tetap terjaga, benda pusaka tetap dalam dekapannya. Dia takut kalau saja ada yang berniat mencuri pusakanya. Separuh malam Opu habiskan terbaring penuh menung.
*

Opu kecil berlari ketakutan menembus malam yang hening, dia sendiri, sepulang dari mengaji.
“Longga….Bapak….Longga,” teriaknya .
Bapak Opu segera menyambut, dengan badik digenggamannya. Tanpa basa basi, bapak Opu melompat dan menghunuskan badik tepat di kepala Longga itu. Opu kecil takjub melihat bapaknya menaklukkan hantu raksasa itu. Longga menghilang, Bapak Opu muncul dari kegegelapan tanpa luka sedikitpun.
“Ini pusaka Longga, Nak. Simpan dan jangan berikan kepada siapapun.” Pesan Bapak Opu.
Bapak Opu pun lalu menghilang, Opu kecil pun menangis tersedu sembari mencari bapaknya.
*

Cahaya pagi merinsek masuk melalui lubang atap rumah samsul. Opu bangun, menghapus sisa air matanya. Mimpi semalam membuat luka rindu akan bapaknya kembali menganga. Pusaka itu diberikan oleh bapaknya sebelum meninggal dunia. 
Opu masih terperangkap lamunan rindu dan beban wasiat bapaknya. Besok, sesuai perjanjian, ijab Kabul pusakanya akan dilaksankan. Walau sebenarnya masih ada yang mengganjal pikiran Opu. Tapi di sisi lain, Opu tak ingin wafat dan hanya mewariskan pusaka Longga kepada anaknya. Niatnya, hasil penjualannya akan dia belikan tanah dan sawah untuk anak semata wayangnya.

Tahir sibuk membagi persen jatah tiap orang yang terlibat dengan penjualan pusaka milik Opu. Opu hanya diam mengangguk setuju. Pikirannya hanya tertuju pada sebidang tanah dan sepetak sawah untuk anaknya. Berapapun keuntungan lain yang diperoleh oleh tahir dan kelompoknya dia abaikan. 
Dua jam berlalu, Pembeli belum kunjung datang. Membuat semua orang bingung dan panik. Opu masih saja beku dan mendekap erat pusaka di dadanya. Satu per satu anggota tahir pamit pulang dengan berbagai alasan. Hasrat mereka akan uang seolah sirna. 

Malam tiba, ijab Kabul batal tanpa konfirmasi apapun dan dari siapapun. Tahir digerogoti kecewa yang dalam. Opu termenung, mimpinya mulai memudar dari matanya. Seribu tanya seolah menghujam kepala tahir, dia pun takut untuk berbicara kepada Opu.
“Besok pagi antar Opu pulang, Nak!” pinta Opu pada tahir.
Tahir pun tak sanggup menjawab banyak. Dia mengiyakan lalu merinsek masuk ke kamar dan menutup malam. Opu kembali termenung, terus mendekap erat pusakanya. Ia sedih, pada akhirnya juga, hanya pusaka ini yang bisa diwariskan ke istri dan anaknya.
*

Opu berlari ketakutan menembus malam yang hening.
“Longga…Nak…Longga!” teriaknya lirih.
Tak ada yang datang menolong, Opu digenggam erat oleh Longga. Tak lagi mampu berteriak, Opu menangis penuh takut.
Anak Opu tiba-tiba menyambut, dengan badik digenggamannya. Tanpa basa basi, Anak Opu melompat dan menghunuskan badik tepat ke kepala Longga itu. Opu takjub melihat anaknya menaklukkan hantu raksasa itu. Longga menghilang, Anak Opu muncul dari kegegelapan tanpa luka sedikitpun. Opu menangis, dia kemudian menyerahkan pusaka itu kepada anaknya.
“Jagalah , Nak !”
*

Pagi amat dingin di Labakkang, hujan deras juga mengguyur . Opu nampak nyenyak dengan tidurnya. Tahir sudah sibuk menjamu tetamunya. Mereka sesekali menatap Opu, Nampak dari raut wajah mereka, keinginan untuk melihat pusaka Opu. Samsul berusaha membangunkan Opu. 
“Puang, Bangun. Sarapan sudah sedia,” ucapnya pelan dan gugup.
Opu tak menyambut, Samsul takut. Tubuh Opu dingin dan kaku. Semua terhenyak, manusia Longga telah tiada. 
***
Labakkang, Maret 2015

Share: